Kemagnetan kristal adalah sifat mineral terhadap gaya tarik magnet. Untuk mengetahui hal tersebut, dapat dilakukan dengan cara mendekatkan mineral dengan magnet. Sifat yang terjadi berupa mineral tertarik oleh magnet atau mineral tidak tertarik oleh magnet.
Kemagnetan terjadi ketika ada suatu ketidakseimbangan dalam struktur susunan ion-ion besi. Besi ditemukan dalam dua prinsip ionik yang dinamakan ion besi belerang (ferrous ions) dan ion asam besi (ferric ions). Ion besi belerang bermuatan +2; sedangkan ion asam besi bermuatan +3. Kedua ion mempunyai perbedaan atomic radii karena muatan yang lebih tinggi pada ion asam besi menarik elektron yang mengelilingi ion secara kuat. Hal ini dapat mendorong kearah ion yang berbeda yang sedang ditempatkan dalam posisi terpisah pada suatu struktur kristal. Elektron bergerak dari besi belerang ke ion asam besi yang bermuatan lebih positif menciptakan suatu medan magnet yang lemah.
Sifat kemagnetan suatu mineral salah satunya adalah Ferromagnetik. Mineral ferromagnetik ialah mineral yang dapat ditarik oleh magnet dengan kuat.
Contoh mineral ferromagnetik :
Contoh mineral ferromagnetik :
- Magnetite
- Maghemite
- Pyrrhotite
Mineralogi Mineral Ferromagnetik
Sejauh ini, bahwa mineral ferromagnetik yang paling penting adalah besi – titanium ( FeTi) oksida. FeTi Oksida umumnya opaque dan saat pemeriksaan petrografi, memerlukan pengamatan bagian yang mengkilap akibat dipantulkan cahaya. Mineral ini mendapat sedikit perhatian dalam penelitian petrologi standar, terutama menekankan penelitian pada bagian tipis dalam cahaya yang ditransmisikan. Oleh karena itu, FeTi oksida umumnya ditemukan di alam dengan mineral lain. Jadi, untuk memahami paleomagnetisme membutuhkan beberapa pengetahuan tentang sifat kimia kristal dan struktur magnetik FeTi oksida. Hal ini
mencakup pengetahuan dasar tentang fase terbentuknya sebagai kristal primer dari magma beku yang mencair dan substansi reaksi kimia yang mempengaruhi mineral ini untuk menghasilkan FeTi oksida sehingga sering dijumpai dalam batuan beku dan batuan sedimen derivatif.
Komposisi FeTi oksida digambarkan pada TiO2–FeO–Fe2O3
Posisi dari kiri ke kanan menunjukkan rasio peningkatan besi ferri (Fe3+) ke besi ferro (Fe2+) sementara posisi Ti dari bawah ke atas menunjukkan peningkatan kadar Ti (Ti 4 +: total Fe). Dengan menggunakan (1 / 2) Fe2O3 sebagai parameter untuk Fe 3+ menetralkan diagram ke salah satu kation, menghasilkan efek oksidasi (meningkatkan rasio Fe3+ : Fe2+) sehingga sejajar dengan dasar diagram. Dua deret larutan padat; titanomagnetites dan titanohematites merupakan fokus utama perhatian kita. Anggota deret keduanya mengalami fase kristal primer dalam batuan, Umumnya dengan selang volume dari 1% sampai 5%.
Titanomagnetites
Titanomagnetites yang opaque, memiliki mineral kubik dengan komposisi di antara anggota akhir magnetit (Fe3O4) dan ulvöspinel (Fe2TiO4). Struktur kristal titanomagnetites adalah struktur spinel. Unit satuannya terdiri 32 O-2 anion yang teratur dalam jaringan pusat kubik. Bentuk anion O-2 ini kira-kira hexagonal-close-packed ( bidang orthogonal sesuai dengan arah diagonal kubus. Anion O-2 dalam jaringan ini memiliki dua tipe tempat kation. Sublattice A dibuat dari delapan tempat per satuan sel dalam koordinat tetrahedral dengan 4 anion O2- di sekitar. Sublattice B disusun dari 16 tempat per satuan sel dalam koordinat oktahedral dengan 6 anion O2- di sekitar. Distribusi 24 kation per satuan sel di dalam Sublattice A dan B dan penukaran pasangan diantara keduanya mengontrol sifat magnetic dari Titanomagnetities
No comments:
Post a Comment